Sepasang suami‑istri
Amerika singgah di hotel itu. Mereka tidak mengenal orang‑orang yang lalu‑lalang
dan berpapasan sepanjang tangga yang mereka lewati pulang‑pergi ke kamar
mereka. Kamar mereka terletak di lantai kedua menghadap laut. Juga menghadap ke
taman rakyat dan monumen perang. Ada pohon palm besar‑besar dan pepohonan hijau
lainnya di taman rakyat itu. Dalam cuaca yang baik biasanya ada seorang pelukis
bersama papan lukisnya. Para pelukis menyukai pepohonan palm itu dan warna‑warna
cerah dari hotel‑hotel yang menghadap ke taman‑taman dan laut.
Di depan monumen perang
tampak iring‑iringan wisatawan Italia membentuk barisan membujur untuk
menyaksikan monumen itu. Monumen yang tampak kemerahan dan berkilauan di bawah
guyuran hujan. Saat itu sedang hujan. Air hujan menetes dari pohon‑pohon palm
tadi. Air berkumpul membentuk genangan di jalan berkerikil. Ombak bergulung‑gulung
membuat garis panjang dan memecah di tepi pantai. Beberapa sepeda motor keluar
dari halaman monumen. Di seberang halaman, pada pintu masuk sebuah kedai
minum, berdiri seorang pelayan memandang ke halaman yang kini kosong.
Si istri Amerika tadi
berdiri di depan jendela memandang keluar. Di sebelah kanan luar jendela mereka
ada seekor kucing yang sedang meringkuk di bawah tetesan air yang jatuh dari
sebuah meja hijau. Kucing tadi berusaha menggulung tubuhnya rapat‑rapat agar
tidak ketetesan air.
“Aku akan turun ke bawah
dan mengambil kucing itu,” ujar si istri.
“Biar aku yang
melakukannya untukmu,” kata suaminya dari tempat tidur.
“Tidak, biar aku saja
yang mengambilnya. Kucing malang itu berusaha mengeringkan tubuhnya di bawah
sebuah meja.”
Si suami meneruskan
bacaannya sambil berbaring bertelekan di atas dua buah bantal pada kaki
ranjang.
“Jangan berbasah‑basah,”
ia memperingatkan.
Si istri turun ke bawah
dan si pemilik hotel segera berdiri memberi hormat kepadanya begitu wanita tadi
melewati kantornya. Mejanya terletak jauh di ujung kantor. Ia seorang laki‑laki
tua dan sangat tinggi.
“Il piove,” ujar si istri. Ia menyukai pemilik hotel itu.
“Si, si, Signora, brutto
tempo.
Cuaca sangat buruk.”
Ia berdiri di belakang
mejanya yang jauh di ujung ruangan suram itu. Si istri menyukai pria itu. Ia
suka caranya dalam memberi perhatian kepada para tamu. Ia suka pada penampilan
dan sikapnya. Ia suka cara pria tadi dalam melayaninya. Ia suka bagaimana pria
itu menetapi profesinya sebagai seorang pemilik hotel. Ia pun menyukai
ketuaannya, wajahnya yang keras, dan kedua belah tangannya yang besar‑besar.
Dengan memendam perasaan
suka kepada pria itu di dalam hatinya, si istri membuka pintu dan
menengok keluar. Saat itu hujan semakin deras. Seorang laki‑laki yang memakai
mantel karet tanpa lengan menyeberang melewati halaman kosong tadi menuju ke
kedai minum. Kucing itu mestinya ada di sebelah kanan. Mungkin binatang tadi
berjalan di bawah atap‑atap. Ketika si istri masih termangu di pintu masuk
sebuah payung terbuka di belakangnya. Ternyata orang itu adalah pelayan wanita
yang mengurusi kamar mereka.
“Anda jangan berbasah‑basah,”
wanita itu tersenyum, berbicara dalam bahasa Itali. Tentu pemilik hotel tadi
yang menyuruhnya.
Bersama pelayan wanita
yang memayunginya si istri berjalan menyusuri jalan berkerikil sampai akhirnya
ia berada di bawah jendela kamar mereka. Meja itu terletak di sana, tercuci
hijau cerah oleh air hujan, tapi kucing tadi sudah lenyap. Tiba‑tiba ia merasa
kecewa. Si pelayan wanita memandanginya.
“Ha perduto qualque cosa,
Signora?”
“Tadi ada seekor
kucing,” jawab si istri.
“Seekor kucing?”
“Si, il gatto.”
“Seekor kucing?” Pelayan
wanita tadi tertawa. “Seekor kucing di bawah guyuran hujan?”
“Ya,” jawabnya, “di
bawah meja itu”. Lalu, “Oh, aku sangat menginginkannya. Aku ingin memiliki
seekor kucing.”
Ketika ia berbicara dalam
bahasa Inggris wajah si pelayan menegang.
“Mari, signora,” katanya. “Kita harus segera kembali ke dalam. Anda akan basah
nanti.”
“Mungkin juga,” jawab
wanita Amerika itu.
Mereka kembali melewati
jalan berkerikil dan masuk melalui pintu. Si pelayan berdiri di luar untuk
menutup payung. Begitu si istri lewat di depan kantor, pemilik hotel memberi
hormat dari mejanya. Ada semacam perasaan sangat kecil dalam diri wanita itu.
Pria tadi membuatnya menjadi sangat kecil dan pada saat yang sama juga membuatnya
merasa menjadi sangat penting. Untuk saat itu si istri merasakan bahwa seolah‑olah
dirinya menjadi begitu pentingnya. Ia menaiki tangga. Lalu membuka pintu kamar.
George masih asyik membaca di atas ranjang.
“Apakah kau dapatkan
kucing itu?” tanyanya sambil meletakkan buku.
“Ia lenyap.”
“Kira‑kira tahu kemana
perginya?” tanya si suami sambil memejamkan mata.
Si istri duduk di atas
ranjang.
“Aku sangat
menginginkannya,” ujarnya. “Aku tidak tahu mengapa aku begitu menginginkannya.
Aku ingin kucing malang itu. Sungguh tidak enak menjadi seekor kucing yang
malang dan kehujanan di luar sana.”
George meneruskan
membaca.
Si istri beranjak dan
duduk di muka cermin pada meja hias, memandangi dirinya dengan sebuah cermin
lain di tangannya. Ia menelusuri raut wajahnya, dari satu bagian ke bagian
lain. Kemudian ia menelusuri kepala bagian belakang sampai ke lehernya.
“Menurutmu bagaimana
kalau rambutku dibiarkan panjang?” tanyanya sambil menelusuri raut wajahnya
kembali.
George mendongak dan
memandang kuduk istrinya dari belakang, rambutnya terpotong pendek seperti laki‑laki.
“Aku suka seperti itu.”
“Aku sudah bosan
begini,” kata si istri. “Aku bosan kelihatan seperti laki‑laki.”
George menaikkan
tubuhnya. Ia terus memandangi istrinya semenjak wanita itu mulai berbicara
tadi.
“Kau cantik dan
bertambah manis,” pujinya. Si istri meletakkan cermin kecil dari
tangannya dan berjalan menuju jendela, memandang keluar. Hari mulai gelap.
“Aku ingin rambutku
tebal dan panjang agar bisa dikepang,” katanya. “Aku ingin seekor kucing duduk
dalam pangkuanku dan mengeong waktu kubelai.”
“Yeah?” komentar George
dari ranjangnya.
“Dan aku ingin makan di
atas meja dengan piring perakku sendiri dan ada lilin‑lilin. Kemudian aku ingin
mengurai rambutku lalu menyisirnya di muka cermin, dan aku ingin seekor kucing,
dan aku ingin baju‑baju baru.”
“Ah, sudahlah. Ambillah
bacaan,” tukas George. Lalu ia meneruskan membaca lagi.
Istrinya memandang
keluar lewat jendela. Semakin gelap sekarang dan dari pohon‑pohon palm masih
jatuh tetesan‑tetesan air.
“Baiklah, aku ingin
seekor kucing,” ujar istrinya, “aku ingin seekor kucing. Saat ini aku ingin
seekor kucing. Seandainya aku tidak bisa memiliki rambut yang panjang atau
kesenangan lainnya, aku punya seekor kucing.”
George tak peduli. Ia
membaca bukunya. Si istri memandang keluar lewat jendela di mana lampu telah
menyala di halaman.
Seseorang mengetuk
pintu.
“Avanti,” kata George. Ia mendongak.
Di pintu masuk berdiri
seorang pelayan wanita. Ia membawa sebuah boneka kucing dari kulit kura‑kura
darat dan menyerahkannya ke depan.
“Permisi,” sapanya,
“pemilik hotel ini mengutus saya menyerahkan boneka ini kepada Nyonya.”
ERNEST HEMINGWAY lahir di Illionis pada tahun 1898. Semula ia menjadi sukarelawan
sopir ambulans pada masa Perang Dunia I. Sebagai seorang perantauan di Paris,
ia meraih sukses pertama kali dengan ceritanya In Our Time. Di antara novel‑novelnya adalah The Sun Also Rises dan A Farewell to Arms. Di akhir hayatnya ia melakukan bunuh diri pada tahun 1961.
Judul asli cerita ini Cat In The Rain, diambil dari buku Ernest Hemingway Short Stories hal 265‑268. Alih bahasa Syafruddin HASANI.
TARUHAN
(The Bet – Oleh Anton
Chekov
Saat itu malam musim
gugur yang gelap. Seorang bankir tua berjalan mondar‑mandir di ruang kerjanya
terkenang pesta yang diselenggarakannya pada musim gugur lima belas tahun
silam. Banyak orang pandai yang hadir dan percakapan‑percakapan yang menarik di
sana.
Di antara hal‑hal yang
mereka perbincangkan adalah masalah hukuman mati. Para tamu, tidak sedikit di
antaranya adalah para sarjana dan jurnalis, sebagian besar tidak setuju atas
pelaksanaan hukuman tersebut. Mereka menganggap hal itu sebagai suatu bentuk
hukuman yang sudah kuno, tidak cocok untuk negara kristen dan amoral. Sebagian
dari mereka berpendapat bahwa hukuman mati hendaknya diganti saja dengan
hukuman penjara seumur hidup secara universal.
“Aku tak sependapat
dengan kalian,” kata sang tuan rumah. “Aku sendiri belum pernah mengalami
hukuman mati atau penjara seumur hidup, tapi bila kita boleh mengambil pertimbangan
berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, menurut pendapatku hukuman mati lebih
bermoral dan lebih manusiawi daripada penjara. Eksekusi langsung membunuh,
sedang penjara seumur hidup membunuh perlahan‑lahan. Siapakah algojo yang lebih
manusiawi, orang yang membunuhmu dalam beberapa detik ataukah seseorang yang
mencabut nyawamu selama bertahun‑tahun?” “Keduanya sama‑sama amoral,” ujar
seorang tamu, “karena tujuan keduanya sama, mengambil kehidupan. Negara bukan
Tuhan. Ia tak punya hak untuk mengambil apa yang tak dapat diberikannya
kembali.”
Di antara mereka
terdapat seorang pengacara muda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Ketika dimintai pendapatnya, ia berkata:
“Hukuman mati dan
penjara seumur hidup sama‑sama amoral, tapi kalau aku disuruh memilih di antara
keduanya, aku pasti memilih yang kedua. Bagaimanapun juga, hidup lebih baik
daripada tidak hidup sama sekali.”
Terjadilah perdebatan
yang seru. Sang bankir yang saat itu masih muda dan temperamental tiba‑tiba
naik pitam, ia menggebrak meja dan berteriak kepada pengacara muda tadi:
“Bohong! Aku berani
bertaruh dua juta kau takkan betah ngendon di sel walau hanya untuk lima tahun saja!”
“Kalau kau serius,”
sahut sang pengacara, “aku bertaruh akan ngendon bukan hanya selama lima,
tapi lima belas tahun.”
“Lima belas tahun.
Jadi!” seru sang bankir. “Tuan‑tuan, aku mempertaruhkan dua juta!”
“Setuju. Kau bertaruh
dengan dua juta, aku dengan kebebasanku,” kata sang pengacara.
Maka taruhan edan‑edanan
itu jadilah. Sang bankir yang saat itu memiliki banyak uang tak dapat
mengendalikan dirinya. Selama makan malam ia berkata kepada sang pengacara
dengan canda:
“Sadarlah sebelum
terlalu terlambat, anak muda. Dua juta tak ada artinya bagiku, namun kau akan
kehilangan tiga atau empat tahun terbaik dalam hidupmu. Kubilang tiga atau
empat, karena kau takkan kuat ngendon lebih lama lagi. Juga jangan lupa,
hai orang malang, bahwa sukarela lebih berat daripada melaksanakan hukuman
penjara sesungguhnya. Pikiran bahwa kau punya hak untuk membebaskan dirimu
kapan saja, akan mengacaukan seluruh kehidupanmu di dalam sel. Aku kasihan
padamu.”
Dan kini sang bankir
berjalan mondar‑mandir mengenang ini semua dan bertanya pada dirinya sendiri:
“Kenapa kulakukan
taruhan ini? Apa manfaatnya? Si pengacara itu kehilangan lima belas tahun
kehidupannya dan aku membuang dua juta. Apakah ini akan meyakinkan masyarakat
bahwa hukuman mati lebih buruk atau lebih baik daripada penjara seumur hidup?
Tidak, tidak! Semua ini kesia‑siaan belaka. Di pihakku itu semata‑mata akibat
pikiran mendadak dari seorang yang kaya raya; sedang bagi si pengacara, semata‑mata
karena kerakusan akan harta.”
Ia mengenang lebih jauh
tentang apa yang terjadi setelah pesta malam itu. Diputuskan bahwa sang
pengacara harus menjalani masa kurungannya di bawah pengawasan yang sangat
ketat di sebuah paviliun yang terletak di kebun milik sang bankir. Juga telah
disepakati bahwa selama masa itu ia akan kehilangan hak untuk melintasi ambang
pintu, melihat kehidupan masyarakat, mendengar suara‑suara manusia, dan
menerima surat serta koran. Ia diijinkan memiliki sebuah alat musik, membaca
buku‑buku, menulis surat, minum anggur dan menghisap tembakau. Berdasar
kesepakatan ia bisa berkomunikasi dengan dunia luar, namun hanya dengan
keheningan, melalui sebuah jendela kecil yang khusus dibangun untuk itu.
Semua kesepakatan itu
telah tertulis secara rinci, yang membuat masa kurungan itu amat sangat sunyi
dan terasing, dan sang pengacara diwajibkan untuk tinggal tepat selama lima
belas tahun mulai dari pukul dua belas pada tanggal 14 November 1870 sampai
dengan pukul dua belas tanggal 14 November 1885. Sedikit saja ia melakukan
pelanggaran atas syarat‑syarat tadi, melepaskan diri walau hanya kurang dua
menit dari waktunya, membebaskan sang bankir untuk membayarnya dua juta.
Selama tahun pertamanya
di penjara, sang pengacara, sepanjang kesimpulan yang dapat ditarik dari
catatan‑catatan kecilnya, sangat menderita karena kesendirian dan kesepian.
Siang malam dari kamarnya terdengar suara piano. Ia menolak anggur dan
tembakau. “Anggur,” tulisnya, “membangkitkan keinginan‑keinginan
yang merupakan musuh utama bagi seorang tahanan, lagi pula tak ada yang lebih
membosankan daripada minum anggur yang baik sendirian, sedangkan tembakau
mengotori udara di kamarnya.”
Selama tahun pertama itu
sang pengacara mendapat kiriman buku‑buku tentang para tokoh, novel‑novel kisah
percintaan yang rumit, cerita‑cerita kejahatan dan fantasi, komedi, dan
sebagainya.
Pada tahun kedua tidak
terdengar lagi suara piano dan sang pengacara hanya meminta sastra Yunani dan
Romawi kuno. Dalam tahun kelima suara musik kembali terdengar dan sang tahanan
meminta anggur. Orang‑orang yang mengawasinya mengatakan bahwa dalam waktu
setahun itu ia hanya makan, minum dan berbaring saja di ranjangnya. Ia sering
menguap dan bicara sendiri sambil marah‑marah. Ia tidak lagi membaca buku.
Terkadang di malam hari ia duduk sambil menulis. Ia menulis dalam waktu lama
kemudian merobek‑robek semuanya di pagi hari. Lebih dari sekali terdengar ia
menangis.
Dalam pertengahan tahun
keenam, sang tahanan mulai mempelajari bahasa‑bahasa, filsafat dan sejarah
dengan penuh semangat. Ia menekuni bidang‑bidang ini dengan laparnya sehingga
sang bankir bersusah payah mencari waktu untuk memenuhi kebutuhan buku‑bukunya.
Dalam masa empat tahun telah sekitar enam ratus volume yang dibeli atas
permintaannya.
Ketika gairah itu surut,
sang bankir menerima surat berikut ini dari sang tahanan:
“Sipirku yang baik,
kutulis baris‑baris ini dalam enam bahasa. Tunjukkanlah kepada para ahli. Biar
mereka membacanya. Jika mereka tak menemukan satu kesalahanpun, kuminta kau
memerintahkan orangmu melepas tembakan di kebun. Dengan keributan itu, aku akan
tahu bahwa usahaku selama ini tidaklah sia‑sia. Para cendekiawan dari segala
masa dan negeri berbicara dalam bahasa‑bahasa yang berbeda, namun dalam diri
mereka semua menyala semangat yang sama. Oh, seandainya kau tahu betapa
bahagianya aku kini karena telah mengerti bahasa‑bahasa mereka!”
Keinginan sang
tahananpun terpenuhi. Dua tembakan dilepas di kebun atas perintah sang bankir.
Selanjutnya, setelah
tahun ke sepuluh, sang pengacara duduk tak bergeming di depan mejanya dan hanya
membaca Kitab Perjanjian Baru. Sang bankir merasa heran bahwa seorang pria yang
selama empat tahun telah menguasai enam ratus volume ilmu pengetahuan, akan
menghabiskan hampir satu tahun hanya untuk membaca sebuah buku saja, yang mudah
dipahami dan sama sekali tidak tebal. Perjanjian Baru itu kemudian digantikan
dengan sejarah agama‑agama dan teologi.
Selama dua tahun
terakhir dari masa kurungannya sang tahanan dengan edan‑edanan membaca luar
biasa banyak. Sekarang ia menekuni ilmu‑ilmu alam, kemudian melahap karya‑karya
Byron dan Shakespeare. Ia mengirim catatan‑catatan kecil minta dikirimi dalam
waktu yang bersamaan sebuah buku tentang kimia, sebuah textbook tentang
kedokteran, sebuah novel, dan beberapa risalah filsafat atau teologi. Ia
membacanya seakan‑akan sedang berenang di lautan di antara kepingan‑kepingan
kapal pecah, dan dalam perjuangan menyelamatkan nyawanya ia mencengkeram keping‑keping
itu satu per satu dengan bersemangat.
Sang bankir mengenang
semua ini dan berpikir:
“Pukul dua belas besok
ia memperoleh kebebasannya. Berdasar kesepakatan, aku nanti harus membayarnya
dua juta. Kalau kubayar, tamatlah riwayatku. Aku bangkrut selamanya….”
Lima belas tahun silam
uangnya berjuta‑juta, tapi sekarang ia bahkan takut bertanya kepada dirinya
sendiri manakah yang lebih banyak dimilikinya, uang ataukah hutang. Berjudi di
pasar modal, spekulasi yang beresiko, dan kesembronoan yang tidak dapat
dihilangkannya bahkan sampai tuanya, perlahan‑lahan telah mengantar bisnisnya
kepada kehancuran. Dan pengusaha yang dulu pemberani, penuh percaya diri dan
angkuh itu kini telah berubah menjadi seorang bankir biasa yang gemetar setiap
kali terjadi fluktuasi harga di pasar.
“Taruhan terkutuk itu,”
bisik pria tua tadi sambil memegangi kepalanya dalam keputusasaan. “Kenapa
orang itu tidak mati saja? Umurnya baru empat puluh tahun. Ia akan membawa
pergi sampai recehan terakhirku serta mengakhiri semuanya; pernikahanku,
hidupku yang enak ini, perjudian di bursa saham, dan aku akan kelihatan seperti
seorang kere yang iri dan mendengar kata‑kata yang sama darinya setiap hari:
‘Aku berhutang budi padamu untuk kebahagiaan hidupku. Biarlah aku menolongmu.’
Tidak, itu terlalu banyak! Satu‑satunya cara melepaskan diri dari kebangkrutan
dan aib adalah pria itu harus mati.”
Jam baru saja berdentang
menunjukkan pukul tiga. Sang bankir menyimaknya. Di rumah itu semua orang sudah
tidur, dan yang terdengar hanyalah bunyi pepohonan beku yang menderu‑deru di
luar jendela. Dengan berusaha agar tidak menimbulkan suara, ia mengeluarkan
kunci pintu yang tidak pernah dibuka selama lima belas tahun dari peti besinya
kemudian mengantongi di mantelnya lalu keluar dari rumah. Di kebun suasananya
gelap dan dingin. Saat itu sedang hujan. Ada kabut dan hembusan angin yang
menderu‑deru, membuat pepohonan tidak bisa diam. Meskipun telah memaksakan
matanya, sang bankir tetap tak dapat melihat tanah, patung‑patung putih,
paviliun ataupun pepohonan di kebun itu. Ketika sedang mendekati paviliun, ia
memanggil‑manggil sang pengawas dua kali. Namun tak ada jawaban. Agaknya sang
pengawas telah mencari perlindungan dari cuaca buruk dan kini sedang tertidur
di dapur atau rumah kaca.
“Kalau aku punya
keberanian untuk menjalankan niatku,” pikir laki‑laki tua itu, “kecurigaan
pertama kali akan ditujukan kepada si pengawas.”
Di dalam kegelapan ia
meraba‑raba mencari jalan dan pintu kemudian memasuki aula paviliun.
Selanjutnya ia meneruskan langkahnya melewati sebuah celah sempit dan
menyalakan sebatang korek api. Tak ada seorangpun di sana. Terlihat dipan tanpa
seprei dan selimut serta sebuah kompor besi samar‑samar di sudut ruangan. Segel
yang tertempel di pintu masuk kamar tahananpun masih utuh.
Ketika koreknya mati,
pria tua itu, yang gemetaran karena gejolak di dalam dirinya, mengintip lewat
jendela kecil. Di kamar tahanan terdapat sebatang lilin yang menyala remang‑remang.
Sang tahanan duduk sendirian di depan meja. Hanya punggung, rambut dan kedua
belah tangannya saja yang nampak. Buku‑buku yang terbuka berserakan di atas
meja, kedua kursi, dan karpet di dekat meja.
Lima menit berlalu dan
sang tahanan tak sekalipun menoleh. Lima belas tahun dalam kurungan telah
mengajarkannya untuk duduk tak bergeming. Sang bankir mengetuk‑ngetuk jendela
dengan jarinya, tapi sang tahanan tidak melakukan sebuah gerakanpun sebagai
tanggapan. Lalu sang bankir dengan hati‑hati merobek segel pintu dan memasukkan
kunci ke lubangnya. Lubang kunci yang berkarat mengeluarkan suara serak dan
pintu pun berderit. Sang bankir mengharap segera mendengar seruan kaget dan
bunyi langkah‑langkah. Tiga menit berlalu dan suasana tetap hening di dalam,
sebagaimana sebelumnya. Iapun memutuskan untuk masuk.
Pria itu duduk di depan
meja, tidak seperti manusia biasa. Nampak mirip tengkorak terbalut kulit yang
berambut gondrong keriting seperti perempuan dan berewokan. Wajahnya kuning
pucat karena tak pernah tersentuh sinar matahari, kedua belah pipinya kempot,
punggungnya panjang dan kecil, dan tangannya yang dipakai untuk menopangkan
kepalanya sangat kurus dan lemah sehingga menyedihkan sekali bagi yang
melihatnya. Rambutnya sudah beruban, dan tak seorangpun yang melihat sekilas ke
wajah tua yang peot itu akan percaya bahwa ia baru berusia empat puluh tahun.
Di atas meja, di depan kepalanya yang tertunduk, tergeletak secarik kertas yang
berisi tulisan tangan yang kecil‑kecil.
“Manusia malang,” batin
sang bankir, “dia sedang tertidur dan barangkali sedang melihat uang jutaan
dalam mimpinya. Aku tinggal mengangkat dan melempar benda setengah mati ini ke
atas dipan, membekapnya sebentar dengan bantal, dan otopsi yang paling teliti
sekalipun tak akan menemukan sebab kematian yang tidak wajar. Tapi, pertama‑tama,
mari kita baca apa yang telah ditulisnya di sini”. Sang bankirpun mengambil
kertas itu dan membacanya:
“Besok pukul dua belas
tengah malam aku akan memperoleh kebebasanku dan hak untuk bergaul dengan
masyarakat. Namun sebelum kutinggalkan ruangan ini dan melihat cahaya
matahari, kupikir aku perlu menyampaikan beberapa patah kata kepadamu. Dengan
nurani yang jernih dan Tuhan sebagai saksinya, kunyatakan kepadamu bahwa aku
memandang hina kebebasan, kehidupan, kesehatan, dan semua yang disebut oleh
buku‑bukumu sebagai rahmat di dunia ini.”
“Selama lima belas tahun
aku dengan rajin telah mempelajari kehidupan duniawi. Memang benar, aku tidak
melihat dunia maupun orang‑orang, tapi dalam buku‑bukumu aku meminum anggur
yang wangi, menyanyikan lagu‑lagu, berburu rusa dan babi hutan di rimba, mencintai
wanita‑wanita….”
“Dan wanita‑wanita cantik,
selembut awan, yang diciptakan oleh sihir kejeniusan para pujangga,
mengunjungiku di malam hari dan membisikkan dongeng‑dongeng yang menakjubkan,
membuat aku mabuk kepayang.”
“Dalam buku‑bukumu aku
mendaki puncak Elbruz dan Mont Blanc dan dari sana menyaksikan bagaimana
matahari terbit di pagi hari, dan ketika senjanya menutupi langit, samudera,
dan punggung pegunungan dengan warna lembayung keemasan. Dari sana kulihat
betapa di atasku kilat berkilauan membelah awan, kulihat hutan‑hutan yang
hijau, ladang‑ladang, sungai‑sungai, danau‑danau, kota‑kota, kudengar nyanyian
sirene dan permainan pipa‑pipa Pan, kusentuh sayap iblis‑iblis cantik yang
terbang mendatangiku untuk berbicara tentang Tuhan…. Dalam buku‑bukumu
kuterjunkan diriku ke dalam jurang tanpa dasar, membuat berbagai keajaiban,
membakar kota‑kota sampai rata dengan tanah, mengajarkan agama‑agama baru,
menaklukkan seluruh negara….”
“Buku‑bukumu memberiku
kebijaksanaan. Semua pemikiran manusia yang tak jemu‑jemunya diciptakan selama
berabad‑abad telah terkumpul di dalam otakku yang kecil. Aku tahu bahwa aku
lebih pandai darimu dalam segala hal.”
“Dan aku memandang hina
buku‑bukumu, memandang hina semua rahmat duniawi dan kebijakan. Semua itu
hampa, lemah, dan khayali bagai bayang‑bayang. Sekalipun engkau hebat,
bijaksana, dan tampan, kelak kematian akan menghapuskanmu dari muka bumi
seperti tikus di bawah tanah. Dan keturunan, sejarah serta monumen kejeniusanmu
akan menjadi ampas beku yang habis terbakar bersama bola bumi ini.”
“Engkau sinting, dan
menyusuri jalan yang salah. Engkau menukar kesejatian dengan kepalsuan dan
kecantikan dengan keburukan. Kau akan heran bila pohon apel dan jeruk
menghasilkan kodok dan kadal, bukannya buah. Dan jika bunga‑bunga mawar
mengeluarkan bau keringat kuda. Demikian pula aku heran padamu yang telah
menukar sorga dengan dunia. Aku tak ingin memahamimu.”
“Kutunjukkan padamu
kejijikanku atas cara hidupmu, kutolak dua juta itu yang pernah kuimpikan
sebagai sorga, dan yang kini kuanggap hina. Aku cabut hakku atasnya, aku akan
keluar dari sini lima menit sebelum waktunya, dengan demikian akan batallah
persetujuan itu.”
Setelah membacanya, sang
bankir meletakkan kembali kertas tersebut di atas meja, dikecupnya kepala orang
asing itu, dan iapun mulai menangis. Ia keluar dari paviliun itu. Tak pernah
sebelumnya, bahkan juga setelah mengalami kerugian besar di bursa saham, ia
merasa begitu jijik kepada dirinya sendiri seperti sekarang ini. Setelah tiba
di rumah, ia membaringkan tubuhnya di atas dipan, tapi gejolak batin dan air
mata menahannya untuk tidur selama beberapa saat.
Pada paginya sang
pengawas yang malang mendatanginya dengan berlari‑lari dan melaporkan bahwa
mereka telah melihat pria yang tinggal di paviliun itu memanjat jendela dan
turun ke kebun. Ia telah pergi ke pintu gerbang dan menghilang. Sang bankir
segera pergi bersama para pembantunya ke paviliun tadi dan mendapatkan
tahanannya telah melepaskan diri. Untuk menghindari desas‑desus yang tak
diinginkan ia mengambil surat yang berisi pernyataan penolakan itu dari atas
meja dan setelah kembali ke rumah menyimpannya di peti besinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar